Jumat, 15 Juli 2011

MICRO TEACHING SEBAGAI PSB


PEMBAHASAN
A.    Pengertian Micro Teaching
MICRO TEACHING  Pengertian Micro-Teaching Micro berarti kecil, terbatas, sempit. Teaching berarti mendidik atau mengajar. Micro-teaching berarti suatu kegiatan mengajar dimana segalanya diperkecil atau disederhanakan. Apa yang dikecilkan atau disederhanakan, yaitu : Jumlah siswa 5-6 orang · Waktu mengajar 5 – 10 menit. Bahan pelajaran hanya mencakup satu atau dua hal yang sederhana. Ketrampilan mengajar difokuskan beberapa keterampilan khusus saja. Unsur micro merupakan ciri utamanya dan berusaha untuk meyederhanakan secara sistimatis keseluruhan proses mengajar yang ada. Usaha simplikasi ini didasari oleh asumsi bahwa :“sebelum kita dapat mengerti, dapat belajar dan dapat melaksanakan kegiatan mengajar yang komplek, kita harus menguasai dulu komponen-komponen dari keseluruhan kegiatan yang ada.”Maka dengan memperkecil murid, menyingkat waktu, mempersempit saran-saran serta membatasi ketrampilan, perhataian dapat sepenuhnya diarahkan pada pembinaan penyempurnaan ketrampilan khusus yang sedang dipelajari. Untuk dapat menguasai berbagai ketrampilan dasar pengajaran dan pembelajaran tersebut maka perlu berlatih satu demi satu ketrampilan tersebut agar mendalami makna dan strategi penggunaannya pada proses pembelajaran. Ketrampilan dasar mengajar dapat diperoleh melalui pembelajaran mikro atau micro teaching. Oleh karena itu pembelajaran mikro  sangat diperlukan dalam bentuk peer teaching dengan harapan agar para gadik dapat sekaligus menjadi observer temannya sesama gadik, dengan harapan masing-masing gadik dapat saling memberikan koreksi dan masukan untuk memperbaiki kekurangan penguasaan ketram-pilan dasar dalam mengajar.
Pengajaran Mikro (MicroTeaching) merupakan salah satu bentuk Model Praktek Kependidikan atau Pelatihan Mengajar. Dalam konteks yang sebenarnya, mengajar Mengandung banyak tindakan, baik mencakup Teknis Penyampaian Materi,Penggunaan Metode, Penggunaan Media, Membimbing Belajar, Memberi Motivasi, Mengelola Kelas, Memberikan Penilaian dst. Dengan kata lain bahwa Perbuatan Mengajar itu sangatlah Kompleks. Oleh karena itu, dalam rangka Penguasaan Keterampilan Dasar Mengajar, calon Guru/Dosen perlu berlatih secara Parsial, artinya: Tiap-tiap Komponen Keterampilan Dasar Mengajar itu perlu dikuasai secara terpisah-pisah (Isolated). Berlatih untuk menguasai Keterampilan Dasar Mengajar seperti itulah yang dinamakan Micro teaching (Pengajaran Mikro). Konsep Pengajaran Mikro (Micro Teaching) dilandasi oleh Pokok-Pokok Pikiran sebagai berikut:
1.    Pengajaran yang Nyata (dilaksanakan dalam bentuk yang sebenarnya) tetapi berkonsep Mini.
2.    Latihan terpusat pada Keterampilan Dasar Mengajar,
3.    Mempergunakan Informasi dan Pengetahuan tentang Tingkat Belajar Siswa sebagai Umpan Balik terhadap Kemampuan calon guru/ Dosen.
4.    Pengajaran dilaksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual kelompok usi tertentu.
5.    Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang diselenggarakan dalam Laboratorium Micro Teaching.
6.    Pengadaan Low Threat Situation untuk memudahkan calon guru/ dosen mempelajari Keterampilan Mengajar.
7.    PenyediaanLow Risk Situation yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam pengajaran,
8.    Penyediaan kesempatan latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu tertentu.
         Pengajaran mikro telah dipraktikkan secara meluas dalam  latihan keguruan di seluruh dunia sejak diperkenalkan di Stanford University oleh Dwight W. Allen, Robert Bush dan Kim Romney pada tahun 1950-an. Untuk dapat memahami micro teaching atau pembelajaran mikro bagi calon gadik, dikemukakan beberapa asumsi dasar yaitu:
1.      Pada umumnya guru tidak dilahirkan tetapi dibentuk terlebih dahulu.
2.      Keberhasilan seseorang menguasai hal-hal yang lebih kompleks ditentukan oleh keberhasilannya menguasai hal-hal yang lebih sederhana sifatnya. Dengan terlebih dahulu menguasai berbagai keterampilan dasar mengajar, maka akan dapat dilaksanakan kegiatan mengajar secara keseluruhan yang bersifat kompleks.
3.      Dengan menyederhanakan situasi latihan maka perhatian dapat dilakukan sepenuhnya kepada pembinaan ketrampilan tertentu yang merupakan komponen kegiatan mengajar.
4.      Dalam latihan-latihan yang sangat terbatas, calon guru lebih mudah mengontrol tingkah lakunya jika dibandingkan dengan mengajar secara global yang bersifat kompleks.
5.      Dengan penyederhanaan situasi latihan, diharapkan akan memudahkan observasi yang lebih sistematis, obyektif serta pencatatan yang lebih teliti. Hasil dari observasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai balikan calon guru tentang kekurangan yang dilakukan dan segera diketahui yang selanjutnya akan diperbaiki pada kesempatan latihan berikutnya.
       Merujuk pada beberapa asumsi dasar pengajaran mikro dapat dikemukakan beberapa pengertian pengajaran mikro sebagai berikut:
1.      Pengajaran mikro dirumuskan sebagai pengajaran dalam skala kecil atau mikro yang dirancang untuk mengembangkan ketrampilan baru dan memperbaiki keterampilan yang lama.
2.      Pengajaran mikro adalah metode latihan yang dirancang sedemikian rupa dengan jalan mengisolasi bagian-bagian komponen dari proses pengajaran dapat menguasai ketrampilan satu persatu dalam situasi mengajar yang disederhanakan.
3.      Micro teaching is effective method of learning to teach, oleh sebab itu micro teaching sama dengan teaching to teach dan atau learning to teach.
4.      Mengikut Micheel J Wallace pengajaran mikro merupakan pengajaran yang disederhanakan. Situasi pengajaran telah dikurangi lingkupnya, tugas guru dipermudah, mata pelajaran dipendekkan dan jumlah peserta didik dikecilkan.
Berpijak pada asumsi dasar dan pengertian pengajaran mikro tersebut, maka dapat disampaikan beberapa ciri pengajaran mikro:
1.      Mikro dalam pengajaran mikro berarti pada skala kecil. Skala kecil berkaitan dengan ruang lingkup materi pelajaran, waktu, siswanya dan ketrampilannya.
2.      Mikro dalam pengajaran dimaknai sebagai bagian dari keterampilan mengajar yang kompleks akan dipelajari lebih mendalam dan teliti bagian demi bagian.
3.      Pengajaran mikro adalah pengajaran yang sebenarnya. Calon gadik harus membuat persiapan pembelajaran, rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, mengelola kelas dan menyiapkan perangkat pembelajaran lainnya yang dapat mendukung proses belajar dan mengajar (PBM).
4.      Pengajaran mikro pada hakekatnya adalah belajar yang sebenarnya. Ditinjau dari praktikan, calon gadik akan belajar bagaimana melakukan pembelajaran sedangkan teman yang jadi siswa akan dapat merasakan bagaimana gaya mengajar temannya dirasakan tepat dan tidaknya strategi pembelajaran yang dibuat.
5.      Pengajaran mikro bukanlah simulasi. Dalam situasi menga-jar teman sejawat, mereka tidak diperlakukan sebagaimana siswa didik akan tetapi mereka tetap menjadi teman yang sebenarnya dengan kedudukan sebagai siswa. Hal ini untuk menghindari perilaku teman sejawat yang dibuat-buat yang mengakibatkan tidak terkondisikan proses pembelajaran antar teman sejawat.
6.      Pengajaran diharapkan dapat direkam sehingga hasil rekaman tersebut dapat dijadikan bahan diskusi antar teman untuk dikoreksi dan diberikan masukan guna perbaikan atas kekurangan praktikan.
Pengajaran mikro bertujuan membekali gadik beberapa ketrampilan dasar mengajar dan pembelajaran. Bagi calon peserta didik metode ini akan memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah ketrampilan dasar mengajar secara terpisah. Sedangkan bagi calon gadik dapat mengembangkan ketrampilan dasar mengajarnya sebelum mereka melaksanakan tugas sebagai gadik. Memberikan kemungkinan calon peserta didik untuk mendapatkan bermacam keterampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana menerapkan dalam program pembelajaran. Bagi supervisor calon pendidik, metode ini akan memberikan penyegaran dalam program pendidikan. Calon pendidik mendapatkan pengalaman mengajar pada calon pendidik yang bersifat individual demi perkembangan profesi.

B.     Keterampilan dasar mengajar.
Sebagai peserta didik, penguasaan keterampilan dasar mengajar menjadi salah satu persyaratan utama dalam proses pembelajaran disamping persyaratan yang lain. Keterampilan dasar yang akan dipelajari adalah:
         1.         Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran. Membuka pelajaran merupakan kegiatan peserta didik dalam mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran yang meliputi; kondisi menciptakan suasana siap mental peserta didik, menciptakan suasana komunikatif antara gadik dengan peserta didik, menimbulkan perhatian peserta didik kepada apa yang akan dipelajari dalam hal ini dapat diawali dari situasi keseharian peserta didik sampai pada materi yang akan dipelajari. Menutup pelajaran merupakan kegiatan gadik mengakhiri kegiatan inti pengajaran. Dalam mengakhiri pelajaran ini, kegiatan yang dilakukan adalah memberikan gambaran menyeluruh semua materi yang telah dipelajari, mengetahui tingkat penyerapan siswa terhadap materi dan mengetahui tingkat keberhasilan gadik dalam proses belajar mengajar.
         2.         Keterampilan menjelaskan dimaknai sebagai keterampilan peserta didik menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan dapat menunjukkan hubu-ngan antar materi yang telah dikumpulkan dan dikuasai serta disiapkan untuk disajikan. Selain dari itu penekanan memberikan penjelasan merupakan proses penalaran peserta didik dan bukan indoktrinasi.
         3.         Keterampilan bertanya adalah ucapan gadik secara verbal yang meminta respon dari peserta didik. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Dengan demikian bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir peserta didik.
         4.         Keterampilan menggunakan variasi diartikan sebagai perbuatan  dalam konteks proses belajar mengajar yang bertujuan menga-tasi kebosanan peserta didik sehing-ga dalam proses belajar mengajar, peserta didik senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan serta berperan serta secara aktif.
         5.         Keterampilan memberi penguatan merupakan tingkah laku dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu peserta didik yang memungkinkan tingkah laku tersebut terulang kembali.
         6.         Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan diartikan sebagai tindakan dalam konteks proses belajar mengajar yang hanya melayani 3 – 8 orang peserta.
         7.         Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan gadik menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi optimal jika terjadi yang dimungkinkan dapat mengganggu kegiatan, baik dengan cara mendisiplinkan atau pun mela-kukan kegiatan remedial.
         8.         Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok peserta didik dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.
C.     Hubungan Micro Teaching dengan Pusat Sumber Belajar (PSB)
Sempat dijelaskan bahwa micro teaching adalah suatu kegiatan mengajar dimana segalanya diperkecil atau disederhanakan, micro teaching juga termasuk dalam pusat sumber belajar karena termasuk dalam kriteria sumber belajar seperti :
a.    Ekonomis dan murah
Hendaknya dalam memilih sumber belajar mempertimbangkan segi ekonomis dalam arti relatif murah, yakni secara nominal uang atau biaya yang dikeluarkan hanya sedikit.
b.    Praktis dan sederhana
Praktis artinya tidak memerlukan pelayanan dan pengadaan sampingan yang sulit dan langka. Sederhana artinya tidak memerlukan pelayanan khusus yang mensyaratkan keterampilan yang rumit dan kompleks.
c.    Bersifat fleksibel (luwes)
Artinya bahwa sumber belajar ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan dapat dipertahankan dalam berbagai situasi dan pengaruh.
d.   Komponen-komponen sesuai dengan tujuan
Mungkin satu sumber belajar sangat ideal, akan tetapi salah satu, bahkan keseluruhan komponen ternyata justru menghambat instruksional.
Dalam berbagai dimensi kehidupan telah banyak pemecahan masalah yang bersifat rasional dan intelektual, jika dibantu dengan irrasional akan membangkitkan ide-ide baru. Sehubungan dengan hal itu, aspek-aspek emosional dan irasional harus dipahami untuk meningkatkan keberhasilan dalam pemecahan masalah, dan mendongkrak kualitas pembelajaran. Oleh karena itu jika guru mengharapkan pencapaian kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah secara optimal, perlu diupayakan bagaimana membina diri dan peserta didik untuk memiliki kecerdasan emosi yang stabil dengan memahami diri dan lingkungannya secara tepat.
Beberapa  hal yang perlu diupayakan untuk mengembangkan sumber belajar dalam pembelajaran dalam micro teaching antara lain:
1.      Bisa memahami lingkungan yang kondusif.
2.   Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis.
3.   Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik.
4.   Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapi.
5.   Melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran, baik secara fisik, sosial, maupun emosional.
6.   Merespon setiap perilaku peserta didik secara positif, dan menghindari respon yang negatif.
7.   Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran.
Pola komunikasi dalam belajar kelompok, menurut Derek Rowntere dalam bukunya Educational Technologi in Curriculum Development (1982), menyajikan dua pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar yaitu pola:
a. Buzz sessions (diskusi singkat) adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik untuk didiskusikan singkat sambil jalan. Sumber belajar yang digunakan adalah materi yang digunakan sebelumnya.
b. Controllet discussion (diskusi dibawah kontrol guru), sumber belajarnya antara lain adalah bab dari suatu buku, materi dari program audio visual, atau masalah dalam praktek laboratorium
c. Tutorial adalah belajar dengan guru pembimbing, sumber belajarnya adalah masalah yang ditemui dalam belajar, harian, bentuknya dapat bab dari buku, topik masalah dan tujuan instruksional tertentu.
d. Team project (tim proyek) adalah suatu pendekatan kerjasama antar anggota kelompok dengan cara mengenai suatu proyek oleh tim.
e. Simulasi (persentasi untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya).
f. Micro teaching, (proyek pembelajaran yang direkam dengan video).
g. Self helf group (kelompok swamandiri).





KESIMPULAN

Sumber belajar adalah semua yang mendukung terjadinya proses pembelajaran, baik guru, pesan yang diajarkan, alat, bahan, atau yang lainnya. Sumber belajar sangatlah diperlukan dalam proses pembelajaran guna untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Adapun fungsi- fungsi dari sumber belajar sangatlah banyak, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab pembahasan.
Oleh karena itu sebagai calon guru atau pendidik kita harus bias memanfaatkan sumber belajar dengan sebaik mungkin, agar kita bias mencapai tujuan pendidikan dengan efektif dan efisien.


Daftar pustaka
Uzer Usman (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Adaptasi dari : Depdiknas. 2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar. Jakarta.
http: // id.wordpress.com/tag/makalah. Sumber Belajar untuk Mengefektifkan Pembelajaran Siswa.
http: // www.freewebs.com/Hijrahsaputra/catatan/manajemen.htm. Manajemen Belajar (MSB).
Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005),


1 komentar: